|
Ketua Pasamuan Agung 2004: Ya, Mahanayaka STI Dihapus!
[17
Juni 2004]
BuddhistOnline.com
- "Ya, secara struktural jabatan Mahanayaka
STI dihapus!" demikian tegas Y.M Jagaro Thera menjawab
BuddhistOnline.com ketika dihubungi di Vihara
Nusa Dhamma, Cilacap, mengenai salah satu keputusan
yang diambil dalam Pasamuan Agung Sangha Theravada Indonesia
(STI) 2004 di Jakarta belum lama ini. Jawaban dari Bhante
Jagaro yang bertugas menjadi ketua dalam Pasamuan Agung
STI 2004 itu sekaligus merupakan jawaban atas keraguan
dan penolakan segelintir orang terhadap kebenaran berita
seputar penghapusan jabatan Mahanayaka STI yang dimuat
sebagai "Berita Terkini" di halaman depan
BuddhistOnline.com beberapa hari lalu.
Dengan dihapuskan jabatan tersebut oleh Pasamuan Agung
STI 2004, maka mau tidak mau Y.M. Sri Paññavaro
Mahathera yang sejak tahun 2000 berada diposisi itu
otomatis, "Berhenti sebagai Mahanayaka STI, sehingga
saat ini Thera Samagama (Dewan Sesepuh) tanpa ketua,"
kata bhikkhu koordinator Padesa Nayaka wilayah Indonesia
Tengah 2003-2006 itu lebih lanjut. Kepastian ini juga
sekalian menepis isu bahwa Bhante Paññalah
yang mengundurkan diri sebagai Mahanayaka STI seperti
yang sempat beredar beberapa hari lalu.
Keputusan penghapusan posisi Mahanayaka STI tersebut
memang mengejutkan dan mengundang banyak tanya. Di samping
terkesan tiba-tiba, kalau ditelusuri lebih lanjut sebenarnya
keputusan itu juga bertentangan dengan salah butir keputusan
Pasamuan Agung STI tahun 2000, terutama pada Bab I Pasal
3 butir 3. Di situ, disebutkan bahwa: Mahanayaka (Kepala
Sangha) dipilih dari, dan diangkat oleh Thera Samagama
(Dewan Sesepuh). Berdasarkan hal itu, terbaca jelas
seharusnya yang memberhentikan Mahanayaka adalah Thera
Samagama juga. Sementara yang terjadi saat ini, Mahanayaka
STI diberhentikan (kalau tidak mau disebut dicopot)
oleh Pasamuan Agung tahunan. Menanggapi hal itu, Bhante
Jagaro mengatakan, "Pasamuan Agung merupakan otoritas
tertinggi dalam STI sehingga memiliki kewenangan untuk
itu."
Mungkin agar tidak dipermasalahkan lebih lanjut, berbarengan
dengan penghapusan jabatan Mahanayaka, butir yang terkait
erat dengan tata cara pemilihan dan pengangkatan Mahanayaka
tersebut ikut dihapus beserta dua butir lainnya. "Butir
1, 2, dan 3 ditiadakan, "kata Bhante Jagaro yang
juga menjadi ketua dalam Pasamuan Agung tahun 2000 itu.
Meskipun begitu, butir 5 yang memuat masa bakti anggota
Thera Samagama (di mana Mahanayaka termasuk di dalamnya)
adalah 5 tahun tetap menyisakan pertanyaan karena Bhante
Panna baru menginjak masa bakti tahun ke-4 sebagai Mahanayaka
STI.
Asal tahu saja, isi kedua butir itu adalah: Sangha
Theravada Indonesia dikepalai oleh seorang Mahanayaka
(Kepala Sangha) dan dalam menjalankan tugasnya, Mahanayaka
(Kepala Sangha) dibantu oleh seorang atau lebih Upa
Mahanayaka (Wakil Kepala Sangha) dan anggota yang terhimpun
dalam Thera Samagama (Dewan Sesepuh).
"Mahanayaka itu sendiri sebenarnya bukan merupakan
suatu jabatan. Sebenarnya Mahanayaka itu adalah kepala
bhikkhu, bukan kepala organisasi, "ujar Bhante
Jagaro lagi.
Yang bikin penasaran, sebenarnya apa sih yang melatarbelakangi
munculnya keputusan final yang cukup menghebohkan seperti
itu? Sepertinya ada masalah yang besar sekali dibalik
semua itu. Menurut Bhante Jagaro, salah satunya adalah
karena stempel STI. "Contohnya, dalam buku Anguttara
Nikaya. Di situ ada tanda tangan Mahanayaka STI dan
stempel STI, padahal Mahanayaka seharusnya tidak memegang
stempel STI. Selama ini antara komponen-komponen STI
belum saling menyambung. Masih kurang koordinasi. Nah,
biar umat tidak bertanya-tanya, tidak muncul gejolak
di kalangan umat, dan menjaga agar supaya kejadian seperti
itu tidak terulang lagi maka diputuskan jabatan Mahanayaka
STI dihapus, Keputusan mengenai hal itu diambil secara
voting. Saat itu, yang menyetujuinya ada lebih dari
separuh yang hadir. Ada juga yang blank (abstain -red),
"kata Bhante Jagaro mencoba menggambarkan latar
belakangan diambilnya keputusan menghilangkan jabatan
yang mulai ada sejak tahun 2000 itu.
Jadi, alasannya bukan karena ada yang merasa kekuasaannya
tersaingi atau intrik politik di dalam STI? "Gak
jugalah. Setahu saya tidak ada perasaan seperti itu.
Bukan juga terjadi intrik politik. Gak ada itu,
"bantah Bhante Jagaro. Mudah-mudah memang demikian
yang sebenarnya terjadi, bukan karena persaingan ataupun
intrik tertentu... ehm. (ben-ch)
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|