Home » Berita

Vihara Baru Bikin Paguyaman Lebih Hidup

10 March 1999 No Comment

Mungkin banyak yang tidak menyangka kalau peresmian Vihara Dharma Muliya Paguyaman, Paguyaman, Sulawesi Utara pada 3 Maret 1999 akan menjadi suatu peristiwa yang istimewa dan langka. Siapa yang mengira kalau untuk peresmian sebuah vihara yang terletak di Kabupaten Gorontalo itu, berkenan hadir sepuluh Bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia (STI).

Lengkapnya adalah Y.M. Sri Pannavaro Mahathera, Y.M. Dhammasubho Thera, Y.M. Uttamo Thera, Y.M. Jagaro Thera, Y.M. Khantidharo Thera, Y.M. Tithaketuko Thera, Y.M. Bhikkhu Saddhaviro, Y.M. Bhikkhu Subhapanno, Y.M. Bhikkhu Suddhimano, dan Y.M. Bhikkhu Vijito. Padahal biasanya tidak mudah menghadirkan bhikkhu sebanyak itu, sekalipun di kota besar. Apalagi mengingat jumlah anggota STI yang tidak banyak dengan tugas yang setumpuk. Yang menjadi pertanyaan tentunya, adakah makna tersembunyi di balik kehadiran Bhikkhu Sangha sebanyak itu?

“Sebenarnya tidak ada maksud tersembunyi lain. Karena untuk peresmian vihara minimal bhikkhu yang hadir harus lima orang, mewakili Sangha. Alternatifnya adalah tujuh atau sembilan orang bhikkhu. Semuanya tergantung pada keputusan Sangha,” jelas Y.M. Dhammasubho Thera, Kepala Vihara Dharma Muliya Paguyaman.

Adapun peresmiannya dilakukan langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara E.E. Mangindaan yang ditandai dengan penekanan tombol sirene yang sekaligus membuka selubung kain penutup nama vihara. Sedangkan pembukaan pintu Dhammasala sebagai bangunan utama vihara tersebut dilaksanakan oleh Direktur Urusan Agama Buddha Cornelis Wowor, MA. yang baru saja menduduki jabatannya belum lama ini.

Dalam sambutannya, Sanghanayaka Sri Pannavaro Mahathera berpesan kepada umat Buddha agar tidak mudah menjadi congkak. “Saya mengajak Umat Buddha agar selalu rendah hati dan tidak congkak Gunakanlah pendekatan pribadi (personal approach) dalam menghadapi setiap masalah,” tutur Sanghanayaka, “Untuk itu, saya anjurkan agar selalu melakukan latihan meditasi cinta kasih.”

Uraian Dhamma singkat itu terasa sangat menyejukkan bagi umat Buddha dan hadirin di tempat itu yang sedang kepanasan di bawah terik sinar matahari. Apalagi acara sempat molor sekitar satu jam karena menunggu kedatangan gubernur. Padahal mereka sudah menunggu sejak pukul delapan pagi. Tidak kurang dari 800 orang hadir dalam peresmian itu. Mereka tidak hanya berasal dari Paguyaman, Gorontalo, dan sekitarnya saja. Ada juga yang datang dari Manado, Palu, Toli-toli, Samarinda, Banjarmasin, Balikpapan, Jakarta, dan Surabaya. Yang menarik, segala urusan tranportasi mobil, penginapan, dan konsumsi para tamu selama acara berlangsung ditanggung oleh panitia.

Sehari sebelumnya, dilakukan prosesi pemindahan Buddha Rupang dari vihara lama ke vihara baru yang berjarak sekitar tiga kilometer. Sedangkan kegiatan lainnya adalah Pabbajja Samanera sementara 9 hari, Buddha Abhisekkha (pemberkatan Buddha Rupang oleh bhikkhu Sangha), pemberkatan peringatan perkawinan, serta hiburan wayang kulit semalam suntuk.

Kegiatan-kegiatan tersebut sempat membuat suasana di Paguyaman menjadi lebih meriah dari hari-hari sebelumnya. Cuma, kayaknya, kasihan para bhikkhu dan samaneranya. Bisa istirahat dengan tenang nggak ya?

Vihara Dharma Muliya Paguyaman sendiri mulai dibangun sejak tahun 1993 di atas tanah seluas 2500 m2 yang disumbangkan oleh seorang umat Buddha. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 23 September 1993. Vihara tersebut terdiri dari dhammasala sebagai bangunan utama, sebuah kuti bhikkhu, dan dua kamar tidur tamu.

Yang cukup mengejutkan, ternyata pembangunan vihara ini tidak memiliki anggaran secara tertulis. “Memang betul sejak awal pembangunan vihara ini berjalan tanpa anggaran. Makanya, jika ditanya berapa total biaya untuk membangun vihara ini, saya selalu menjawab: tidak ternilai,” kata Bhante Dhammasubho yang memimpin langsung pembangunan vihara itu.

Kini, hasil jerih payah selama kurang lebih enam tahun telah berdiri dengan megah di tengah-tengah alam pedesaan yang asri. Banyak yang berharap semoga kehadiran vihara itu dapat membuat daerah tersebut lebih ‘hidup’. Seperti mutiara yang selalu bersinar. So butul jo itu! (bch) FOTO-FOTO: BEN-CH

Comments are closed.