{"id":100,"date":"2007-09-11T10:30:53","date_gmt":"2007-09-11T10:30:53","guid":{"rendered":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/id\/100"},"modified":"2007-09-17T10:30:46","modified_gmt":"2007-09-17T10:30:46","slug":"hubungan-seks-pra-nikah-langgar-pancasila","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/tanyadhamma\/100\/","title":{"rendered":"Hubungan Seks Pra Nikah Langgar Pancasila?"},"content":{"rendered":"<div class=\"topcontent\">Namo Buddhaya,<\/p>\n<p>Apakah melakukan hubungan seks dengan lawan jenis sebelum menikah, di mana keduanya sama-sama mau, termasuk melanggar sila Pancasila Buddhis? Mohon dijawab. Terima kasih.<\/p>\n<p>Mettacitena,<\/p>\n<p><strong>Rusidi, Jakarta<\/strong><\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div class=\"midcontent\"><strong>Jawaban dari Y.M. Bhikkhu Uttamo:<\/strong><br \/>\nDalam kriteria pelanggaran sila ketiga, permasalahannya bukan mau sama mau, tapi ada kriteria yang diluar hal itu. Kriteria pelanggaran tersebut adalah jika salah satu pelakunya adalah<\/p>\n<p>   1. Saudara kandung sendiri (kakak atau adik kandung)<br \/>\n   2. Anak di bawah umur (belum dewasa)<br \/>\n   3. Anak di bawah perlindungan (masih tergantung pada orangtua atau wali)<br \/>\n   4. Suami atau istri orang lain.<br \/>\n   5. Mereka yang sedang menjalankan sila (samanera atau Bhikkhu)<\/p>\n<p>Dengan pelaku salah satu dari kriteria di atas, maka dia telah melanggar sila ketiga, walaupun perbuatan itu dilakukan mau sama mau.<\/p><\/div>\n<div class=\"midcontent\"><strong>Jawaban dari Selamat Rodjali:<\/strong><br \/>\nSila Ketiga: Kamesu micchacara veramani sikkhapadam samadiyami = menahan diri dari pemuasan nafsu seks dengan cara yang salah (perzinahan).<\/p>\n<p>Ada empat faktor dalam perzinahan, yaitu :<\/p>\n<p>   1. Agamaniya-vatthu: (ada) orang yang tidak patut digauli.<br \/>\n   2. Tasmim sevacittam: mempunyai pikiran untuk menyetubuhi orang tersebut.<br \/>\n   3. Sevanappayogo: berusaha menyetubuhinya.<br \/>\n   4. Maggena maggapatipatti adhivasanam: berhasil menyetubuhinya; dalam arti berhasil memasukkan alat kemaluannya ke dalam salah satu dari tiga lubang (mulut, anus, atau liang peranakan) walaupun hanya sedalam biji wijen.<\/p>\n<p>Adapun yang menjadi obyek dari pelanggaran sila ketiga, yaitu:<\/p>\n<p>   1. Obyek yang menyebabkan pelanggaran sila ketiga oleh laki-laki:<br \/>\n          * Wanita yang telah menikah,<br \/>\n          * Wanita yang masih di bawah pengawasan atau asuhan keluarga.<br \/>\n          * Wanita yang menurut kebiasaan (adat istiadat) dilarang, yaitu:<br \/>\n                o Mereka dilarang karena tradisi keluarga, masih dalam satu garis keturunan yang dekat.<br \/>\n                o Mereka dilarang karena tradisi (peraturan) agama. Dalam tradisi Theravada disebutkan termasuk di dalamnya adalah upasika Atthasila dan Bhikkhuni (di jaman dulu).<br \/>\n                o Mereka dilarang karena hukum negara pada jaman dulu, misalnya selir raja.<\/p>\n<p>   2. Obyek yang menyebabkan pelanggaran sila ketiga oleh seorang wanita:<br \/>\n          * Laki-laki yang telah menikah.<br \/>\n          * Laki-laki yang berada di bawah peraturan agama. Misalnya, bhikkhu, samanera.<\/p>\n<p>Dalam Abhidhamma, terdapat daftar bagi wanita (20 jenis) dan pria yang bila dilakukan oleh pasangannya, merupakan pelanggaran sila ketiga tersebut.<\/p><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Namo Buddhaya,<br \/>\nApakah melakukan hubungan seks dengan lawan jenis sebelum menikah, di mana keduanya sama-sama mau, termasuk melanggar sila Pancasila Buddhis? Mohon dijawab. Terima kasih.<br \/>\nMettacitena,<br \/>\nRusidi, Jakarta<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100"}],"collection":[{"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100"}],"version-history":[{"count":0,"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/buddhistonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}